Sesuluh Idup

11 March 2009

Bagaimana Menjalankan Kehidupan Spiritual Sehari-hari

Filed under: Tutur — sesuluh @ 17:17
Seorang yogi yang telah melakukan pertapaan beberapa tahun, kemudian turun gunung.. dalam perjalanan karena capek beristirahatlah dia di bawah sebuah pohon, saat asyik beristirahat dua ekor burung sedang bermain dan tiba-tiba beol…dan mengenai kepala sang yogi (pertapa), dia kesal kemudian dari kedua matanya memancarkan sinar dan membakar kedua burung tersebut…sang yogi merasa bangga kekuatan yang dia peroleh telah mampu menghanguskan tubuh kedua burung yang memang bersarang di pohon itu.
Setelah dirasa cukup beristirahat kemudian sang pertapa melanjutkan perjalanan turun gunung…gangsarang satue enggal… sampailah dia di sebuah desa, kebiasaan pertapa jaman dahulu, bila melewati sebuah desa, maka penduduk akan memberikan makanan, sang pertapa hari itu telah berdiri di depan sebuah rumah dipinggir jalan. lama dia menunggu namun tak juga datang penghuni rumah untuk memberikan makanan, dalam pikiran sang pertama:”wah penunggu rumah ini tidak tahu seorang pertama agung melewati rumahnya, kok dia tidak keluar pula..”

Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara seorang wanita dari dalam rumah, “maafkan kami paduka pertapa agung, pasti telah lama menunggu di luar sana, sebentar lagi saya akan datang”. kagetlah sang pertapa, kok bisa ibu ini tahu apa yang saya pikirkan, bahkan saya belum mengatakannya….saya telah bertapa dan mendalami yoga bertahun-tahun saya belum bisa membaca dan mengerti pikiran ibu ini. wah…ilmu yoga apa yang dia pelajari…?

Sang ibu kemudian keluar, serta merta, sang pertapa berlutut di bawah kaki ibu, seorang petani sederhana, dengan pakaian super sangat sederhana, sambil memeluk kaki ibu warga desa itu sang pertapa berkata: “Ibu yang mulia…mohon katakan pada saya yang bodoh ini, yoga apa yang ibu lakukan…? ajarkanlah hal itu padaku…”

Ibu petani yang sederhana ini kebingungan melihat tingkah polah sang pertapa, dengan gugup ibu menjawab;” Wahai pertapa agung…saya tidak tahu kitab suci, tidak belajar tentang agama seperti anda yang berpendidikan, apa yang saya lakukan adalah melayani suami saya dengan ikhlas, menolong sesama dengan ikhlas, dan melakukan apapun dengan ikhlas…semua ini saya dapatkan dari nasehat ..si tukang jagal daging di pasar….

sang pertapa lebih kaget lagi, loh…kok seorang penjagal daging di pasar bisa mengajarkan ilmu yang begini hebat…..wah aku harus ketemu dengan dia…..

Sang pertapa..bergegas pergi ke pasar, di pasar seperti biasa suara hiruk pikuk para pedagang dan pembeli yang melakukan transaksi tawar menawar menambah suasana pasar semakin semarak, para kuli panggul menawarkan jasanya kepada para pembeli yang membawa barang banyak…

Suasana itu dikagetkan dengan kedatangan seorang pertapa…semua mata tertuju pada sosok pertapa yang sedang melangkah memasuki pasar…Pertapa yang baru turun gunung ini sedikit kaget pula melihat hampir semua mata tertuju padanya, tekadnya yang kuat menemui si tukang daging (jagal) membuat langkahnya semakin mantap dan tidak memperdulikan kasak-kusuk para pelaku yang heran melihat pertapa ada di tengah-tengah pasar.

Pertapa ini terus melangkah..sesekali dia bertanya pada orang yang ditemuinya, dimana sih si tukang jagal itu berada. Ternyata ada banyak tukang jagal..dia mulai kebingungan mencari yang mana yang dimaksud oleh ibu petani yang sangat sederhana ini.

Keinginan dan rasa penasarannya yang begitu kuat terus mendorong dia untuk melangkah mamasuki setiap sudut pasar…sudah satu jam lamanya dia berkeliling belum juga dia menemukan sang tukang jagal yang dimaksud. Keringat mengucur diseluruh tubuhnya…dia berhenti sejenak sambil menarik nafas, tiba-tiba pandangan matanya mangkap sosok tubuh yang gerakan sangat cepat mencacah daging dan melayani pelanggannya, tidak satupun pelanggan yang datang, tidak dilayaninya, semua dilayani sama, tidak perduli yang kaya, yang miskin, yang beli banyak, yang beli sedikit, semua mendapat perlakuan sama…semboyan marketing every costumer is very important persons, bener-bener dia praktikan, semua diperlakukan sangat terhormat, dengan senyum dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Saking terpesonanya sang pertapa melihat prilaku sang tugang daging, tanpa dia sadari, kakinya perlahan melangkah mendekati si tukang daging, dia tidak sadar kalo dia sudah berada di depan sang tukang daging.

Belum lepas dia dari rasa kagumnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara: “Hai pertapa agung, kenapa kau ke sini, pasti si ibu petani di sudut desa itu yang mengirimmu ke sini ya….” kata tukang daging sambil tersenyum. Lagi-lagi sang pertapa ini kaget bukan main kok bisa dia tahu kedatangan saya…, belum beres dia menangani keraguannya, sang tukang daging melanjutkan perkataannya. “Dikau belum puas dengan penjelasan ibu petani di ujung desa, mohon bersabar yah…setelah saya selesai menyelesaikan pekerjaan ini melayani orang-orang yang datang, saya akan datang padamu”. Sang pertapa tidak bisa berkata apa-apa semua hal yang difikirkannya seakan diketahui oleh Bapak ini, siapa dia sesungguhnya….seorang avatara…? nabi….tapi kok membunuh-bunuh/ memati-mati… begitu banyak pertanyaan muncul di benak si pertapa yang memaksa dia untuk berdiri tegak diam menunggu sang tukang daging….

Gangsarang satue enggal…si tukang daging yang bekerja dengan sangat cekatan, tanpa lupa pula dia menyapa setiap kawan yang lewat,.. telah selesai menyelesaikan tugasnya, semua barang dagangannya telah habis, semua kotoran dan sampah ditempatkan pada tempatnya, tidak lupa dia melemparkan sisa-sisa daging pada kucing dan anjing yang berkeliaran di pasar, demikian pula para pelanggan telah dilayaninya dengan penuh rasa suka cita, terpancar kepuasan di wajah-wajah para pelanggannya.

“Maafkan saya pertapa agung, membuat anda menunggu terlalu lama, mari mampir ke pondok kami…” kata si tukang daging, sang pertapa masih tetap tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dan mengikuti langkah si tukang daging, “ratusan bahkan mungkin ribuan pertanyaan muncul di kepala sang pertapa, melihat semua kejadian-kejadian yang dia alami selama perjalanannya turun gunung….mereka melangkah menuju ke sebuah jalan setapak yang dipenuhi oleh rerumputan hijau nan halus. Tampak sebuah gubuk yang sederhana di dekat sebuah kali kecil. Mereka berhenti di sana.

Si tukang daging membukakan pintu, ternyata dirumahnya ada dua orang tuanya yang sudah tidak bisa berjalan karena usia tua. Dengan cekatan si tukang daging memandikan kedua orang tuanya, memakaian pakaian, kemudian pergi ke dapur memasak dan menyiapkan minum buat sang pertapa, selanjutnya dia menyiapkan makanan dan menyuapi kedua orang tuanya dengan penuh cinta kasih…rasanya tidak pernah tampak ada rasa capek pada diri si tukang daging yang barusan selesai melakukan tugasnya di pasar.. Sang Ibu dan Bapak tersenyum mengusap-usap kepala sang pertapa sambil menitikkan air mata kebahagiaan…..sang pertapa terus memperhatikan setiap kejadian itu dengan teliti dan tidak lupa berusaha membahas dan menghubungkannya dengan apa yang selama ini dia temukan dalam sastra-sastra suci.

Waktu berjalan cepat, akhirnya selesai sudah pekerjaan rumah sang tukang daging, setelah selesai mandi dia sembahyang kemudian menghampiri tamunya. “Sekali lagi maafkan saya paduka pertapa agung, lama sekali paduka menunggu saya…baiklah sekarang waktu saya untuk Anda, apa yang bisa saya bantu….”

Wahai Guru Agung…banyak hal yang saya alami dalam perjalanan saya turun gunung, apa yang membuat ibu yang sederhana itu dan Guruji memiliki kekuatan yang maha luar biasa, mampu mengetahui pekiran oranng, merasakan apa yang kami rasakan…saya telah bertapa bertahun-tahun, saya telah membaca dan hafal ratusan kitab, namun saya tidak memiliki kemampuan itu…?

Sambil tersenyum sang pertapa menjawab: “Kekuatan itu ada pada keikhlasan/ketulusan dalam menjalani tugas dan kewajiban”. Apapun tugas yang kami emban kami jalankan dengan penuh suka cita, dengan keihlasan dan dengan penuh rasa tanggung jawab…perlahan namun pasti kekuatan keihlasan/ketulusan itu akan menyingkap selubung pengetahuan dalam diri kita…”

“bagaimana kita menjalani kehidupan spritual sehari-hari….” sambung sang pertapa. “Anda telah menyaksikan dari pagi hingga malam ini (detik ini saat kita duduk berhadapan), Anda telah melihat apa yang telah saya lakukan seharian ini. Demikianlah saya menjalani kewajiban saya, kepada sesama manusia, dalam hal ini para pelanggan saya, tamu (Anda), teman-teman saya, orang tua, Para leluhur/Tuhan/Kawitan/Para Dewa (sembahyang), dengan lingkungan (mengelola sampah dan membagi rejeki pada kucing dan anjing) ini disebut dengan tiga keharmonisan yang bisa menimbulkan rasa bahagia…saat saya datang ke pasar semua orang tersenyum, para pelanggan tersenyum senang menanti kedatangan saya, para kucing dan anjing dengan riang menyenggol-nyenggol saya seakan dia mengekspresikan kebahagiaannya saat dekat dengan saya, saat saya nyampe di rumah ibu dan ayah tersenyum bahagia menanti saya….Inilah kebahagian bagi saya…

HD-NET

 

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: